Kata thariqat berasal dari bahasa arab yang bermakna "jalan" sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an : "wa 'allawis taqomuw 'alaath-thoriyqoti la'ashqoinahum maa 'an ghodaqo #artinya# : Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap isitqomah di atas jalan itu (agama islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)". [QS. aL-Jin/72:16]. Dan sabda Nabi Muhammad SAW : "Syari'ah adalah ucapan, thariqat adalah perbuatan dan haqiqah adalah modal pokok" [Jami'al-Ushul]. Berdasarkan firman Allah swt dan hadis Nabi tersebut diatas, bahwa seluruh amal ibadah tidak akan sampai tanpa melalui jalan thareqat. Syariat tanpa thariqat tidak akan sampai dan thariqat tanpa syariat adalah zindik (musyrik), sehingga keduanya harus berjalan seiring tanpa boleh meninggalkan salah satunya.---
Sayyid Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Q.S. berkata : "Oleh karena itu wahai ikhwan bangunlah dan segeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dengan bertaubat dengan masuk ke dalam thariqat, kembalilah keharibaan Tuhanmu bersama dengan rombongan ruhani ini. Sebentar lagi jalan ini akan tertutup dan tak ada teman yang akan menemani ke alam tersebut. Kita tidak datang ke dunia ini untuk membersihkan kehidupan dunia yang hina dan tidak abadi ini, tidak pula untuk merasa puas dengan kepentingan-kepentingan nafsani yang kotor. Nabi kalian, Muhammad, semoga Allah mencurahkan keberkahan dan kesejahteraan kepadanya, demi kalian, terus menanti dan bersedih. Rasulullah saw bersabda # kesedihanku karena ummatku yang ada pada akhir zaman #."---
Syekh K.H. Ahmad Sohibulwafa Tajul Arifin ra. [Abah Anom], di dalam bukunya "Miftahus Shudur", mengatakan : "Semua thariqat bercabang dari dua thariqat pokok yaitu dzikir jahr dan dzikir sirr. Keduanya merupakan pangkal dan bersama keduanya pertolongan Allah Yang Maha Pengasih akan turun, karena dzikir merupakan faktor penyebab seorang murid mencapai ma'rifah dan kedudukan sebagai hamba yang dicintai oleh Allah."
Banyak ucapan dan hal yang berkaitan dengan dasar thariqat. Syaikh Asy-Sya'raniy r.a. berkata : "hati-hati mengatakan bahwa jalan thariqat tidak didukung al-Qur'an dan Sunnah. Sebab ucapan seperti itu adalah kufur. Thareqat itu seluruhnya akhlak Nabi Muhammad SAW, meniti jalan hidup Muhammad SAW, dan sunnah Ilahi.---
Thariqat Qodiriyah Naqsyabandiyah [TQN] adalah thariqat dzikir, baik dzikir jahr maupun dzikir sirr. Dzikir adalah satu amalan yang membawa seorang hamba untuk dapat benar-benar dekat kepada Allah. sebab dalam al-Qur'an Allah berfirman : "Kepada-Nya-lah perkataan-perkataan yang baik dan amalan yang saleh dinaikkan-Nya" [QS. Fathir/35:10]. Nabi Muhammad saw mentalqin (mengajarkan) kalimat thayyibah/ kalimat dzikir ini kepada para sahabat untuk membeningkan hati mereka, mensucikan jiwa mereka, dan menghantarkan mereka ke hadirat Allah dan kebahagiaan suci.
Syekh K.H. Ahmad Sohibulwafa Tajul Arifin ra. mengatakan : Apabila ia bersungguh-sungguh dalam meniti jalan spiritual, mengikuti bimbingan syaikhnya dan berkemauan keras berdzikir kepada Tuhanya, dengan dzikir tersebut kegelapan yang ditimbulkan lalai dan maksiat dalam hatinya aka dihapus sedikit demi sedikit, jiwanya akan kosong dari sifat-sifat tercela dan kemudian dihiasi dengan sifat-sifat utama. Dengan demikian ia akan memperoleh Nur Allah Yang Maha Haq, lalu merasa tenang dan tenteram dekat dengan Tuhannya, Allah pun menjadi ridho kepada-nya dan menjadikan jiwanya ridho kepada Allah. ---
Ucapan arifin billah : "Tiada saat tanpa dzikir, Tiada Dzikir tanpa hidup, Tiada hidup tanpa sholat, dan Tiada sholat tanpa dzikir". Maka seseorang yang sedang berdzikir kepada Allah itu sesungguhnya ia sedang mensyukuri nikmat Allah dan mohon pengampunan-Nya. amin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar