Cerita ini sekedar untuk selingan belaka, dan ini terjadi pada awal tahun tujuh puluhan pada saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Secara geografis letak desa kami adalah membujur dari selatan ke arah utara, di bagian selatan desa adalah merupakan persawahan milik penduduk desa yang sangat luas sedang dibagian utara adalah perbukitan yang jarang penduduknya. disebelah utara desa kami ada tempat pemakaman umum/ kuburan dan di sebelah timur kuburan tersebut ada sebuah sungai yang dikenal banyak ikannya. sebenarnya di desa kami ada dua buah sungai yang kedua-duanya banyak terdapat ikan, hanya saja orang lebih suka memancing ikan di sungai yang berada disebal timur kuburan, sebab di tempat itu sangat teduh karena banyak pohon-pohon besar yang dapat melindungi sengatan matahari, sehingga membuat orang mancing dapat bertahan hingga berjam-jam.
sebut saja badrun, jikin dan rohman ketiga orang ini termasuk orang-orang yang dikenal senang sekali mancing di sungai sebelah timur kuburan tersebut. seperti biasa siang itu mereka telah berada disana dengan masing-masing alat pancing/ joran, sambil menyalakan rokok tradisionalnya mereka asik memancing. entah berapa ekor yang telah mereka peroleh, dan entah berapa lama mereka berada disana, sampai waktu menjelang sore mereka tidak menyadari. saat itu memang musim penghujan, dan sepertinya sore itupun akan turun hujan lebat sebab mendung telah menutupi langit desa kami, ketiga orang itu tidak menyadari akan hal tersebut sebab rimbunnya pepohonan sekitar sungai sulit untuk membedakan kalau hari sudah menjelang sore dan dari langit akan segera turun hujan. benar saja tidak lama kemudian air hujan mulai turun sehingga ketiga orang itu sedikit panik dan bergegas untuk segera pulang, dengan menenteng kail dan hasil pancingan siang itu mereka berlari-lari melalui jalan yang melintasi kuburan, hujan semakin lebat sehingga memaksa mereka untuk mencari tempat berteduh. dan satu-satunya tempat berteduh adalah rumah kecil ditengah-tengah kuburan (tempat penyimpanan keranda), sambil menunggu hujan reda mereka ngobrol dan bercanda sambil merokok, rokok yang meraka hisap adalah rokok tradisional yang haru dibuat lebih dulu sebelum dihisap (dengan bahan tembakau, klembak dan kemenyan yang kemudian dilinting).
di tengah-tengah mereka ngobrol dan bercanda, tiba-tiba saja muncul suara gaduh dari dalam keranda yang bertutup melengkung dan rapat, ketiga orang itu kaget setengah mati sebab ada suara gaduh yang berasal dari keranda dan tutupnya bergerak-gerak layaknya akan terbuka dari dalam. kontan saja mereka lari terbirit-birit menuju desa tanpa memperdulikan lagi barang-barang bawaannya, tentu saja tingkah laku ketiga orang itu membuat heboh orang-orang desa yang tinggalnya tidak jauh dari kuburan tersebut. mereka berebut cerita kepada orang-orang yang akan menuju kemasjid, "ada hantu di dalam keranda" kata salah satu dari mereka, "saking takutnya, ikanku tertinggal" kata yang lainnya. selepas menunaikan sholat magrib orang-orang kampung sekitar kuburan tersebut diminta oleh badrun, jikin dan rohman untuk menemani mereka mengambil barang-barang yang mereka tinggal saat berlari dan sekaligus membuktikan apa gerangan yang ada didalam keranda "apa mungkin benar ada hantu di dalam keranda" kata salah satu dari mereka. dengan membawa lampu petromak milik salah satu warga mereka beramai-ramai mendatangi rumah penyimpanan keranda.
ha.. ha.. ha.. itu bukan hantu... melainkan si yatim. di desa kami ada orang gila yang sudah lama menetap namun asal-usul dan sejak kapan dia tinggal di desa kami tidak ada yang tau, orang-orang desa memanggilnya siyatim, dia itu kadang pergi menghilang sampai beberapa minggu, kemudian muncul lagi, bila sedang berada di desa kami dia biasa tidur dan bikin lapak di teras-teras kios yang ada dipasar dengan barang-barang bawaannya. rupanya sore itu dia berjalan melintasi kuburan, karena dilihatnya langit mendung dan akan turun hujan, yatim lebih dulu dari ketiga orang tersebut singgah di rumah penyimpanan keranda, mungkin dalam benaknya terfikir "biar tidak kedinginan alangkah baiknya kalo aku tidur dalam keranda", namanya juga orang gila. pada saat badrun, jikin dan rohman kehujanan dan berteduh di tempat yang sama, dia terbangun karena terusik oleh obrolan dan bau rokok kemenyan yang menjadi kesukaannya, terbukti pada saat orang-orang desa sampai di sana dia sedang merokok, bahkan rokok tersebut sisa sibadrun yang sengaja dia tinggal bersama-sama dengan ikan hasil mancing pada saat lari tadi...
yatim... yatim... harusnya sebelum tidur, keranda kamu pasang tulisan... don't disturb me