Sabtu, Desember 27, 2008

THARIQAT

Kata thariqat berasal dari bahasa arab yang bermakna "jalan" sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an : "wa 'allawis taqomuw 'alaath-thoriyqoti la'ashqoinahum maa 'an ghodaqo #artinya# : Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap isitqomah di atas jalan itu (agama islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)". [QS. aL-Jin/72:16]. Dan sabda Nabi Muhammad SAW : "Syari'ah adalah ucapan, thariqat adalah perbuatan dan haqiqah adalah modal pokok" [Jami'al-Ushul]. Berdasarkan firman Allah swt dan hadis Nabi tersebut diatas, bahwa seluruh amal ibadah tidak akan sampai tanpa melalui jalan thareqat. Syariat tanpa thariqat tidak akan sampai dan thariqat tanpa syariat adalah zindik (musyrik), sehingga keduanya harus berjalan seiring tanpa boleh meninggalkan salah satunya.---
Sayyid Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Q.S. berkata : "Oleh karena itu wahai ikhwan bangunlah dan segeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dengan bertaubat dengan masuk ke dalam thariqat, kembalilah keharibaan Tuhanmu bersama dengan rombongan ruhani ini. Sebentar lagi jalan ini akan tertutup dan tak ada teman yang akan menemani ke alam tersebut. Kita tidak datang ke dunia ini untuk membersihkan kehidupan dunia yang hina dan tidak abadi ini, tidak pula untuk merasa puas dengan kepentingan-kepentingan nafsani yang kotor. Nabi kalian, Muhammad, semoga Allah mencurahkan keberkahan dan kesejahteraan kepadanya, demi kalian, terus menanti dan bersedih. Rasulullah saw bersabda # kesedihanku karena ummatku yang ada pada akhir zaman #."---
Syekh K.H. Ahmad Sohibulwafa Tajul Arifin ra. [Abah Anom], di dalam bukunya "Miftahus Shudur", mengatakan : "Semua thariqat bercabang dari dua thariqat pokok yaitu dzikir jahr dan dzikir sirr. Keduanya merupakan pangkal dan bersama keduanya pertolongan Allah Yang Maha Pengasih akan turun, karena dzikir merupakan faktor penyebab seorang murid mencapai ma'rifah dan kedudukan sebagai hamba yang dicintai oleh Allah."
Banyak ucapan dan hal yang berkaitan dengan dasar thariqat. Syaikh Asy-Sya'raniy r.a. berkata : "hati-hati mengatakan bahwa jalan thariqat tidak didukung al-Qur'an dan Sunnah. Sebab ucapan seperti itu adalah kufur. Thareqat itu seluruhnya akhlak Nabi Muhammad SAW, meniti jalan hidup Muhammad SAW, dan sunnah Ilahi.---
Thariqat Qodiriyah Naqsyabandiyah [TQN] adalah thariqat dzikir, baik dzikir jahr maupun dzikir sirr. Dzikir adalah satu amalan yang membawa seorang hamba untuk dapat benar-benar dekat kepada Allah. sebab dalam al-Qur'an Allah berfirman : "Kepada-Nya-lah perkataan-perkataan yang baik dan amalan yang saleh dinaikkan-Nya" [QS. Fathir/35:10]. Nabi Muhammad saw mentalqin (mengajarkan) kalimat thayyibah/ kalimat dzikir ini kepada para sahabat untuk membeningkan hati mereka, mensucikan jiwa mereka, dan menghantarkan mereka ke hadirat Allah dan kebahagiaan suci. 
Syekh K.H. Ahmad Sohibulwafa Tajul Arifin ra. mengatakan : Apabila ia bersungguh-sungguh dalam meniti jalan spiritual, mengikuti bimbingan syaikhnya dan berkemauan keras berdzikir kepada Tuhanya, dengan dzikir tersebut kegelapan yang ditimbulkan lalai dan maksiat dalam hatinya aka dihapus sedikit demi sedikit, jiwanya akan kosong dari sifat-sifat tercela dan kemudian dihiasi dengan sifat-sifat utama. Dengan demikian ia akan memperoleh Nur Allah Yang Maha Haq, lalu merasa tenang dan tenteram dekat dengan Tuhannya, Allah pun menjadi ridho kepada-nya dan menjadikan jiwanya ridho kepada Allah. ---
Ucapan arifin billah : "Tiada saat tanpa dzikir, Tiada Dzikir tanpa hidup, Tiada hidup tanpa sholat, dan Tiada sholat tanpa dzikir". Maka seseorang yang sedang berdzikir kepada Allah itu sesungguhnya ia sedang mensyukuri nikmat Allah dan mohon pengampunan-Nya. amin...

Senin, Desember 08, 2008

QURBAN

Selagi ingatan masih segar pada perayaan Iedhul Adha 1429 H yang baru saja kita rayakan, saya ingin mengangkat cerita dari e-mail yang saya peroleh dari seorang rekan milist beberapa bulan yang lalu. Semoga cerita ini dapat membangkitkan semangat berqurban yang berarti semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah azzawajala. Kata "Qurban" berasal dari bahasa arab yang memiliki makna "mendekatkan".
Belum Haji Sudah Mabrur
Oleh : Ahmad Tohari
Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta . Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup.
Bagaimana bila Senin?''
''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''
''Mau ambil berapa?'' tanya saya.
''Enam ratus ribu, Pak.''
''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ''Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.''
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?''
''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.''
''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Senin, November 24, 2008

RUMAH KERANDA


Cerita ini sekedar untuk selingan belaka, dan ini terjadi pada awal tahun tujuh puluhan pada saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Secara geografis letak desa kami adalah membujur dari selatan ke arah utara, di bagian selatan desa adalah merupakan persawahan milik penduduk desa yang sangat luas sedang dibagian utara adalah perbukitan yang jarang penduduknya. disebelah utara desa kami ada tempat pemakaman umum/ kuburan dan di sebelah timur kuburan tersebut ada sebuah sungai yang dikenal banyak ikannya. sebenarnya di desa kami ada dua buah sungai yang kedua-duanya banyak terdapat ikan, hanya saja orang lebih suka memancing ikan di sungai yang berada disebal timur kuburan, sebab di tempat itu sangat teduh karena banyak pohon-pohon besar yang dapat melindungi sengatan matahari, sehingga membuat orang mancing dapat bertahan hingga berjam-jam.
sebut saja badrun, jikin dan rohman ketiga orang ini termasuk orang-orang yang dikenal senang sekali mancing di sungai sebelah timur kuburan tersebut. seperti biasa siang itu mereka telah berada disana dengan masing-masing alat pancing/ joran, sambil menyalakan rokok tradisionalnya mereka asik memancing. entah berapa ekor yang telah mereka peroleh, dan entah berapa lama mereka berada disana, sampai waktu menjelang sore mereka tidak menyadari. saat itu memang musim penghujan, dan sepertinya sore itupun akan turun hujan lebat sebab mendung telah menutupi langit desa kami, ketiga orang itu tidak menyadari akan hal tersebut sebab rimbunnya pepohonan sekitar sungai sulit untuk membedakan kalau hari sudah menjelang sore dan dari langit akan segera turun hujan. benar saja tidak lama kemudian air hujan mulai turun sehingga ketiga orang itu sedikit panik dan bergegas untuk segera pulang, dengan menenteng kail dan hasil pancingan siang itu mereka berlari-lari melalui jalan yang melintasi kuburan, hujan semakin lebat sehingga memaksa mereka untuk mencari tempat berteduh. dan satu-satunya tempat berteduh adalah rumah kecil ditengah-tengah kuburan (tempat penyimpanan keranda), sambil menunggu hujan reda mereka ngobrol dan bercanda sambil merokok, rokok yang meraka hisap adalah rokok tradisional yang haru dibuat lebih dulu sebelum dihisap (dengan bahan tembakau, klembak dan kemenyan yang kemudian dilinting). 
di tengah-tengah mereka ngobrol dan bercanda, tiba-tiba saja muncul suara gaduh dari dalam keranda yang bertutup melengkung dan rapat, ketiga orang itu kaget setengah mati sebab ada suara gaduh yang berasal dari keranda dan tutupnya bergerak-gerak layaknya akan terbuka dari dalam. kontan saja mereka lari terbirit-birit menuju desa tanpa memperdulikan lagi barang-barang bawaannya, tentu saja tingkah laku ketiga orang itu membuat heboh orang-orang desa yang tinggalnya tidak jauh dari kuburan tersebut. mereka berebut cerita kepada orang-orang yang akan menuju kemasjid, "ada hantu di dalam keranda" kata salah satu dari mereka, "saking takutnya, ikanku tertinggal"  kata yang lainnya. selepas menunaikan sholat magrib orang-orang kampung sekitar kuburan tersebut diminta oleh badrun, jikin dan rohman untuk menemani mereka mengambil barang-barang yang mereka tinggal saat berlari dan sekaligus membuktikan apa gerangan yang ada didalam keranda "apa mungkin benar ada hantu di dalam keranda" kata salah satu dari mereka. dengan membawa lampu petromak milik salah satu warga mereka beramai-ramai mendatangi rumah penyimpanan keranda. 
ha.. ha.. ha.. itu bukan hantu... melainkan si yatim. di desa kami ada orang gila yang sudah lama menetap namun asal-usul dan sejak kapan dia tinggal di desa kami tidak ada yang tau, orang-orang desa memanggilnya siyatim, dia itu kadang pergi menghilang sampai beberapa minggu, kemudian muncul lagi, bila sedang berada di desa kami dia biasa tidur dan bikin lapak di teras-teras kios yang ada dipasar dengan barang-barang bawaannya. rupanya sore itu dia berjalan melintasi kuburan, karena dilihatnya langit mendung dan akan turun hujan, yatim lebih dulu dari ketiga orang tersebut singgah di rumah penyimpanan keranda, mungkin dalam benaknya terfikir "biar tidak kedinginan alangkah baiknya kalo aku tidur dalam keranda", namanya juga orang gila. pada saat badrun, jikin dan rohman kehujanan dan berteduh di tempat yang sama, dia terbangun karena terusik oleh obrolan dan bau rokok kemenyan yang menjadi kesukaannya, terbukti pada saat orang-orang desa sampai di sana dia sedang merokok, bahkan rokok tersebut sisa sibadrun yang sengaja dia tinggal bersama-sama dengan ikan hasil mancing pada saat lari tadi...
yatim... yatim... harusnya sebelum tidur,  keranda kamu pasang tulisan... don't disturb me